Tips memaksimalkan Produksi hasil dari PLTS atap

hasil produksi plts

Panel surya mampu memproduksi energi pada rentang daya nya. Ketika terkena cahaya matahari terik, panel surya mampu memproduksi daya hingga mencapai batas daya watt peak. Tanpa ada awan yang melintas, produksi panel surya akan lebih banyak dibandingkan cahaya mendung.

Tapi ada kalahnya, ketika produksi panel jadi menurun. Penurunan produksi listrik dari panel surya di pengaruhi oleh berbagai sebab, bisa juga faktor alam. Cuaca mendung dan ber-awan dapat menghalangi paparan sinar matahari ke panel, sehingga menurunkan jumlah energi listrik yang di hasilkan.

Faktor-faktor ini dapat di perbaiki dengan cara khusus. Berikut ini cara meng-analisi apa yang menyebabkan produksi dari PLTS jadi kurang maksimal.


Panel terkena debu, kotor dan jarang di bersihkan

Panel surya merupakan alat yang dapat mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, cara penggunaanya hanya perlu membentangkan bagian panel yang mengadung sel fotovoltaik. Penggunaan dalam jangka waktu yang lama, menghasilkan debu-debu yang menempel di atas permukaan modul panel surya.

Semakin lama, penumpukan debu akan semakin banyak dan tebal. Debu akan menutupi panel surya, dan tidak mendapatkan cukup cahaya matahari. Idealnya, panel surya wajib di bersihkan / Maintenace setiap 3-6 bulan sekali.

Tergantung pada lokasi tempat panel tersebut di install. Jika dipasang di atap rumah yang dekat dengan aktivitas padat, kendaraan bermotor, atau dekat perlintasan kereta api. Akan semakin sering maintenanc dilakukan, aktifitas yang padat dapat membuat debu yang berada di tanah berterbangan dan jatuh kembali ke bawah. Debu ini terbawa olelh angin, hingga menumpuk di atas panel.


Hilang daya dalam perjalanan

Kabel panel juga mempengaruhi tingkat effisiensi hasil produksi. Kabel panel surya mengalirkan listrik dari panel menuju tempat penggunaan, entah itu di simpan ke dalam baterai bank atau langsung di masukan ke dalam power inverter.

Penambahan panel secara parallel namun menggunakan kabel tunggal tentu akan membuat produksi listrik jadi berkurang. Selama perjalanan, energi listrik berkurang akibat resistansi kabel. Resistansi kabel akan semakin besar apabila, kabel nya panjang, ukuran diameter kawat kabel lebih kecil.

Sebaiknya gunakan kabel yang tebal. Apabila ingin menggunakan susunan model tegangan rendah, jangan lupa gandakan lebih dari satu kabel tebal. Banyak orang lebih tertarik menggunakan daya installasi tingggi dibanding daya rendah. Semakin besar tegangan panel, akan semakin kecil penurunan tegangan akibat resistansi kabel.


Jangan lupa periksa sambungan kabel secara berkala, konektor mc4 bisa saja kemasukan air, mengalami korosi, dan tidak presisi. Gangguan pada konektor sambungan panel surya listrik tidak mengalir. Pada rangkaian panel surya dengan modul lebih dari satu, cukup sulit mengetahui konektor apakah sudah terhubung dengan baik atau tidak.


Komponen Kontroller ada yang rusak

Kontroller yang di gunakan dalam manajemen energi untuk menyalurkan energi panel surya ke baterai di susun dari beberapa transistor MOSFET. Tujuan dari penggunaan beberapa transistor mosfet yang di parallel adalah agar daya yang mengalir ke baterai semakin besar.

Transistor mosfet ini bisa mengalami kerusakan oleh berbagai faktor, bisa terjadi karena kepanasan, overload, atau terkena sambaran petir. Jika mosfet mengalami kerusakan penuh, bisa di ketahui listrik tidak akan mengalir ke baterai. Bila yang rusak cuma satu atau dua, maka akan terlihat adanya penurunan produksi panel.

Komponen yang sering rusak tidak hanya mosfet, tapi juga ada dioda. Ketika komponen ini rusak, pengguna biasanya langsung mengganti alat controller dengan yang baru. Satu alasan kenapa mengganti modul kontroller baru, yakni biaya untuk melakukan perbaikan hampir sama dengan harga baru.


Baterai sudah melebihi siklus

PLTS offgrid merupakan PLTS yang sangat bergantungan pada baterai. Semua energi yang di produksi akan di simpan ke dalam baterai, energi ini akan digunakan sebagai cadangan di saat tidak ada cahaya matahari. Baterai juga mempunyai masa pakai, masa pakai baterai umumnya di hitung dalam bentuk siklus pengisian dan pengosongan.

Semakin sering di isi dan di kosongkan, elemen dalam bateraia kan mengalami perubahan kimia, dan membuat kapasitasnya jadi berkurang. Baterai jenis VRLA, pada dasarnya mempunyai masa pakai yang lebih pendek. Perkiraaan 500-600 siklus pengisian, selebihnya baterai akan soak.

Berbeda dengan baterai li-thium, baterai lihium punya siklus pengisian sekitar 2000-3000x. Apabila suadah lewat dari siklus ini, baterai masih bisa digunakan tanpa masalah. Tapi, kapasitas daya tampung dari baterai tersebut akan berkurang. Misalnya kalau sebelumnya 100Ah, setlah lewat siklus bisa jadi cuma 60-90Ah.

Sistem kelistrikan menggunakan panel surya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan membutuhkan perawatan secara berkala. Listriknya tidak gratis, panel surya di bangun dengan modal investasi yang sangat mahal.


Sebagai alat utama untuk monitoring produksi, di butuhakan wattmeter atau meteran DC. Alat ini sudah ada yang versi iot, hasil pengukuran dan data-data sebelumnya dapat dilihat menggunakan aplikasi.

Siapa nih, yang di rumahnya masih menggunakan PLTS dan tidak bergantung pada PLN?